Tentang SNI ASTM C805:2012
SNI ASTM C805:2012 Metode Uji Angka Pantul Beton Keras merupakan revisi dari SNI 03-4803-1998 dan merupakan adopsi identik dari ASTM C805-02. Standar SNI ASTM C805:2012 mengatur prosedur penentuan angka pantul beton keras menggunakan palu pantul (rebound hammer) yang dikendalikan oleh pegas. Metode SNI ASTM C805:2012 digunakan untuk menilai keseragaman beton di lapangan, mengidentifikasi bagian struktur yang berkualitas rendah atau mengalami kerusakan, serta memperkirakan perkembangan kekuatan beton secara non-destruktif.
Ruang Lingkup
Metode uji SNI ASTM C805:2012 mencakup penentuan angka pantul beton keras dengan menggunakan palu pantul yang dikendalikan oleh pegas. Satuan yang digunakan dalam standar SNI ASTM C805:2012 adalah SI. Standar SNI ASTM C805:2012 tidak mencantumkan semua hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja, yang menjadi tanggung jawab pengguna untuk menentukan keselamatan dan kesehatan serta aplikasi batasan regulasi sebelum digunakan.
Istilah Penting
- Angka pantul (rebound number): Besaran dalam skala linier yang merupakan jarak pantul massa palu baja terhadap hulu palu yang menempel pada permukaan beton, dimana pantulan tersebut ditimbulkan oleh tumbukan massa palu baja dengan jumlah energi tertentu.
- Hulu palu (plunger): Bagian alat yang menempel pada permukaan beton dan menerima tumbukan pada saat pengujian.
- Palu pantul (rebound hammer): Alat uji yang terdiri dari palu baja yang gerakannya dikendalikan oleh pegas, apabila dilepas akan memukul hulu palu yang kontak langsung dengan permukaan beton.
- Anvil penguji: Silinder baja dengan diameter 150 mm dan tinggi 150 mm, kekerasan permukaan tumbukan 66 HRC ± 2 HRC, digunakan untuk verifikasi dan kalibrasi palu pantul.
Arti dan Kegunaan
- Metode SNI ASTM C805:2012 dapat digunakan untuk menilai keseragaman beton di lapangan, menggambarkan bagian dari struktur yang mempunyai kualitas jelek atau beton yang mengalami kerusakan, serta memperkirakan perkembangan kekuatan beton di lapangan.
- Untuk memperkirakan kekuatan beton, dibutuhkan korelasi antara kekuatan beton dan angka pantul. Hubungan tersebut harus ditetapkan dari campuran beton dan alat yang telah ditentukan.
- Untuk campuran beton yang diketahui, angka pantul dipengaruhi oleh kelembapan permukaan bidang uji, metode yang digunakan untuk memperoleh permukaan bidang uji (tipe bahan cetakan dan tipe finishing), serta kedalaman karbonasi.
- Metode uji SNI ASTM C805:2012 tidak dapat digunakan sebagai dasar penerimaan atau penolakan beton karena ketidakpastian yang tersirat dalam perkiraan kekuatan.
Peralatan
- Palu pantul (rebound hammer): Terdiri dari palu baja yang gerakannya dikendalikan oleh pegas. Palu baja harus bergerak dengan kecepatan konstan dan dapat dilakukan ulang. Jarak pantul antara palu baja dan hulu palu diukur dalam skala linier. Tersedia dalam beberapa tipe dan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran dan tipe struktur beton yang akan diuji.
- Batu penggosok: Terbuat dari silika karbid atau bahan sejenis dengan tekstur butiran sedang, digunakan untuk meratakan permukaan beton yang kasar.
- Anvil penguji: Silinder baja dengan diameter 150 mm dan tinggi 150 mm, kekerasan permukaan tumbukan 66 HRC ± 2 HRC. Dilengkapi alat pengarah agar palu pantul berada di tengah daerah tumbukan dan menjaga alat tetap tegak lurus permukaan uji.
- Verifikasi: Palu pantul harus dirawat dan diverifikasi setiap tahun serta apabila pengoperasiannya diragukan. Umumnya palu pantul menghasilkan angka pantul 80 ± 2 ketika diuji pada anvil.
Daerah Pengujian dan Hambatan
Pemilihan Permukaan Uji
- Elemen beton yang akan diuji harus memiliki tebal minimum 100 mm dan menyatu dengan struktur.
- Benda uji yang lebih kecil harus diletakkan pada tumpuan kaku.
- Hindari pengujian pada daerah yang menunjukkan keropos, permukaan beralur (scaling), permukaan kasar, atau daerah dengan porositas tinggi.
- Hasil pengujian tidak dapat dibandingkan jika beton menggunakan bahan bekisting yang berbeda.
- Permukaan beton yang digosok (troweled) akan menghasilkan angka pantul lebih tinggi daripada permukaan yang diplester atau diaci (finishing).
Persiapan Permukaan Bidang Uji
- Diameter bidang uji minimum 150 mm.
- Permukaan dengan tekstur kasar, lunak, atau terkelupas mortarnya harus diratakan dengan batu penggosok.
- Permukaan bekas cetakan yang sudah rata dan permukaan halus tidak perlu digosok sebelum pengujian.
- Jangan membandingkan hasil dari permukaan yang sudah dan tidak dihaluskan.
- Permukaan kering memberikan angka pantul lebih tinggi daripada permukaan basah. Efek permukaan kering dan karbonasi dapat dikurangi dengan membasahi permukaan beton secara terus menerus selama 24 jam sebelum pengujian.
- Apabila terdapat lapisan karbonasi tebal, lapisan tersebut harus dibuang dengan gerinda untuk memperoleh angka pantul yang mewakili bagian dalam beton.
Kondisi Pengujian
- Jangan menguji beton yang membeku. Beton seharusnya diuji hanya sesudah mencair.
- Untuk pembacaan yang akan dibandingkan, arah tumbukan (horizontal, ke bawah, ke atas, atau lainnya) harus sama atau hasil pembacaan dikoreksi dengan faktor koreksi yang sudah ada.
- Pengujian tidak diijinkan apabila di bawah permukaan beton terdapat batang tulangan dengan selimut kurang dari 20 mm. Letak tulangan dapat ditentukan dengan detektor logam (cover-meter).
Prosedur Pengujian (Cara Uji)
- Pegang alat dengan kokoh sehingga posisi hulu palu tegak lurus dengan permukaan beton yang diuji.
- Tekan alat secara perlahan ke arah permukaan uji sampai palu pantul menumbuk hulu palu.
- Setelah tumbukan, tahan tekanan pada alat dan apabila perlu tekan tombol pada sisi alat untuk mengunci hulu palu pada posisinya.
- Baca dan catat angka pantul pada skala untuk angka terdekat.
- Lakukan 10 titik bacaan pada setiap daerah pengujian dengan jarak antar titik minimal 25 mm.
Perhitungan
- Hitung nilai rata-rata dari 10 titik bacaan.
- Hasil pembacaan yang berbeda lebih dari 6 satuan dari rata-rata 10 titik bacaan diabaikan.
- Tentukan nilai rata-rata baru dihitung dari pembacaan data yang memenuhi syarat.
- Bila lebih dari 2 titik bacaan memiliki perbedaan lebih dari 6 satuan dari nilai rata-rata, maka seluruh rangkaian pembacaan harus dibatalkan dan tentukan angka pantul pada 10 titik bacaan baru pada daerah pengujian yang berbeda.
Ketelitian dan Penyimpangan
- Ketelitian: Untuk benda uji tunggal, operator tunggal, mesin yang sama, pada hari yang sama, standar deviasi adalah 2,5 satuan. Dengan demikian rentang dari sepuluh bacaan tidak boleh melebihi 12 satuan.
- Penyimpangan (bias): Penyimpangan dari cara uji ini tidak dapat dievaluasi karena angka pantul hanya dapat ditentukan dalam kerangka metode uji ini.
Pelaporan
Laporan untuk setiap area pengujian harus memuat:
- Tanggal dan waktu pengujian.
- Identifikasi lokasi pengujian pada konstruksi beton, tipe dan ukuran bagian yang diuji.
- Deskripsi proporsi campuran beton (termasuk tipe agregat kasar jika diketahui) dan kekuatan rencana beton.
- Deskripsi area pengujian yaitu karakteristik permukaan (digosok/troweled, diplester), apakah permukaan dihaluskan/digerinda, tipe bahan cetakan, tingkat keterbukaan terhadap lingkungan.
- Identifikasi palu pantul dan nomor seri, temperatur udara saat pengujian, orientasi palu pantul selama pengujian.
- Rata-rata angka pantul dari daerah pengujian.
- Menandai kembali daerah yang pembacaan datanya dihapus atau kondisi yang tidak biasa.
Dokumen Sumber
Untuk detail lebih lanjut, Anda dapat mengakses dokumen sumber SNI ASTM C805:2012 melalui tautan di bawah ini.
Akses dokumen SNI ASTM C805:2012 >>>
Dapatkan dokumen resmi di Pesta BSN.